Perlukah Slogan Politik ?

Oleh : Fatimah Kaloko Tepat pada hari rabu, tanggal 23 september 2020 pemilihan kepala daerah serentak akan diselenggarakan. Pesta demo...

Oleh : Fatimah Kaloko
Tepat pada hari rabu, tanggal 23 september 2020 pemilihan kepala daerah serentak akan diselenggarakan. Pesta demokrasi ini akan diadakan di 270 daerah di Indonesia. Tahapan demi tahapan pilkada hingga menuju hari pencoblosan mulai dilaksanakan. Meskipun demikian, hal lain yang harus di perhatikan khalayak masyarakat, bukan hanya tahapan pilkada saja. Akan tetapi, perlu kita amati juga bursa calon yang akan bertarung pada pilkada serentak 2020 yang akan datang ini. Terkhusus pada pesan-pesan politik yang mulai digaungkan oleh calon kepala daerah agar dapat menarik dukungan di masyarakat.

Khususnya di wilayah Provinsi Jambi, tepatnya di Kota Jambi, penulis melihat di berbagai sudut wilayah Kota Jambi, mulai bertebaran iklan kampanye calon kepala daerah yang akan berkontestasi pada pilkada serentak 2020 nanti. Hal ini menandakan strategi pemasaran politik calon kepala daerah secara tidak langsung telah dilaksanakan. Meskipun demikian, mengemas pesan kampanye dengan baik menjadi peran sentral sebagai “motor” serangan agar dapat menyentuh hati masyarakat sehingga mudah untuk dipahami serta masyarakat tergoda untuk mendukung sang calon. Namun, hal yang menjadi titik perhatian penulis ialah slogan politik calon kepala daerah yang ditawarkan di iklan-iklan politik yang bertebaran di masyarakat, baik di media cetak, media massa ataupun media sosial.

Branding Politik
Pada hakekatnya, istilah branding politik adalah aktifitas politik yang ditandai dengan penciptaan citra yang baik, serta mudah dikenal oleh masyarakat agar menciptakan keserasian pesan politik secara efektif dan efisien dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Oleh karena itu, diperlukan riset yang mendalam sehingga dalam penentuan branding politik yang dipakai dapat sesuai dengan hati nurani masyarakat serta dapat menyuarakan keinginan rakyat sehingga terbentuk slogan politik yang sesuai dengan keinginan rakyat.

Salah satu cara agar pemilih dapat mengingat pesan politik kandidat yang akan berkontestasi pada pilkada serentak 2020, diperlukan strategi yang mudah diterima di masyarakat, yakni penentuan “slogan politik” . Beberapa slogan politik yang penulis temui di sudut jalan Kota Jambi antara lain, “Jambi mantap, Jambi Juara, Jambi Bangkit, Jambi Unggul, Jambi Berkah dan lain sebagainya”. Dilihat dari segi kebahasaan, setiap slogan politik yang di tawarkan pasti telah memenuhi unsur persoalan yang terjadi pada kondisi pasar, sehingga dalam menciptakan slogan politik dapat membangkitkan emosi dan perasaan guna menarik perhatian khalayak untu memilih.

Menarik untuk ditelaah lebih lanjut, aktifitas branding politik sebuah kampanye politik adalah aspek yang penting jikalau dilakukan dengan tepat, akan menghasilkan tujuan yang tepat dan terakomodir. Apabila tidak tepat, maka hasilnya ataupun tujuan dari sang calon takutnya tidak secara maksimal dapat diterima oleh masyarakat ataupun sang calon itu sendiri. Penentuan slogan politik yang kreatif, imajinatif  sungguh diperlukan sehingga tujuan dari pesan politik itu tampak jelas dan terukur.

Biarpun begitu, masyarakat juga harus jelih dalam memaknai setiap slogan politik yang ditawarkan oleh para calon pemimpin daerah tersebut. Masyarakat juga harus paham, bahwasanya slogan politik tersebut merupakan alat untuk mesugesti mereka agar mempengaruhi masyarakat dalam menentukan sikap politik. Lantas bagaimana cara masyarakat menganalisis slogan politik tersebut ? hal yang diperlukan ialah penulis menyarankan kepada masyarakat agar lebih mengenal sang calon tersebut juga harus bisa mengnyinkronkan slogan politik sang calon dengan kondisi yang terjadi di masyarakat serta dapat menarik kesimpulan dari analisis yang telah dilakukan.

Fenomena slogan politik bukan merupakan hal yang baru di dunia perpolitikan di Indonesia. Berkaca dari pemilu tahun 2019, dimana pada waktu itu ada pertarungan dua pasangan calon yang pertama pasangan calon Joko Widodo – Ma’aruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno yang akan memperebutkan posisi sebagai presiden dan wakil presiden. Namun, yang perhatikan ialah slogan yang dipakai oleh kedua pasangan calon. Joko Widodo – Ma’aruf Amin dengan slogan “Indonesia Maju” dan Prabowo Subianto dengan “Indonesia Adil dan Makmur” yang mana slogan tersebut secara berkesinambungan dapat mempengaruhi publik sehingga tersugesti untuk menentukan sikap politik.

Perilaku Pemilih
Pemilih memiliki kekuasaan atas diri pribadi dan pilihan politik. Dalam menentukan sikap politik pemilih acap kali dibenturkan oleh pilihan yang beragam, adapun aspek yang menjadi tinjauan pemilih sungguh beragam. Ada yang melihat dari rekam jejak sang calon, relevansi rencana program kerja yang ditawarkan, background partai pendukung ataupun ideologi yang dianut sang calon. Bahkan, dalam menentukan sikap politik, pemilih juga dapat dipengaruhi oleh keluarga dan kedekatan dengan sang calon.

Hal ini menandakan bahwasanya kebutuhan akan pilihan politik dan perilaku pemilih itu cenderung berbeda, karena banyak faktor yang menentukan pilihan tersebut. Sehingga riset membedakan pemilih itu dibagi atas beberapa kategori yakni : 1. Pemilih Rasional yakni pemilih berpikir dalam menentukan pilihan, 2. Pemilih Rasional-emosional yakni pemilih yang membutuhkan waktu dalam menentukan sikap. Karena pemilih di Indonesia dalam mengekspresikan pilihan politik cenderung beragam.

Untuk bisa masuk ke kesadaran pemilih, slogan politik sangat diperlukan adanya dan harus terus diulang di berbagai kesempatan. Baik melalui sang calon itu sendiri, tim kampanye maupun alat peraga yang dipergunakan, sehingga menjadi tolak ukur pemilih dalam mentukan pilihan politik, yang tidak kalah penting ialah mewujudkan kontestasi politik sehat, santun dan beradab. Kendati demikian, mau sebagus apapun slogan politk yang ditawarkan, jikalau slogan politik itu dibangun tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi di masyarakat, maka slogan politik hanyalah sebagai sebuah slogan tanpa mengandung makna yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Fatimah Kaloko (Mahasiswa Fisipol Universitas Jambi)
Name

Grafis,2,Headline,686,jejak,6,Kolom,99,Terkini,664,Tokoh,5,Video,26,Wirausaha,4,Wisata,6,
ltr
item
Gentala Jambi: Perlukah Slogan Politik ?
Perlukah Slogan Politik ?
https://1.bp.blogspot.com/-mtTaDwhBbUU/Xldj434COVI/AAAAAAAABjQ/odrNTETZ-nYnNLYsgG4wVoAssa-Aham-gCLcBGAsYHQ/s320/fatimah.png
https://1.bp.blogspot.com/-mtTaDwhBbUU/Xldj434COVI/AAAAAAAABjQ/odrNTETZ-nYnNLYsgG4wVoAssa-Aham-gCLcBGAsYHQ/s72-c/fatimah.png
Gentala Jambi
https://www.gentala.id/2020/02/perlukah-slogan-politik.html
https://www.gentala.id/
https://www.gentala.id/
https://www.gentala.id/2020/02/perlukah-slogan-politik.html
true
8731269479639335939
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy